Sabtu, 18 Januari 2020


Sebenernya tulisan ini adalah sebuah Essay untuk ikut lomba yang diadakan oleh kedutaan besar Rusia dengan judul "Kenapa saya suka Rusia?". Hadiah bagi pemenangnya lumayan fantastis yaitu tiket pesawat pulang-pergi ke Rusia. Aku coba membuat tulisan Essay untuk ikut lombanya. Tapi ternyata aku belum menang. Tidak apa apa juga.. Mungkin memang tulisan orang lain lebih bagus. Bisa dicoba lagi kalau ada kesempatan. Akhirnya aku ingin menaruh tulisanku waktu itu disini. Semoga bermanfaat bagi pembaca.







GARA-GARA DIA, SAHABAT PENA SAYA

Ketika ada pertanyaan, kenapa saya menyukai Rusia? Alasannya sederhana, yaitu gara-gara dia. Iya. Cuma gara-gara dia, sahabat pena saya yang kebetulan dia adalah orang Rusia itu sendiri. Lho, kok bisa? Bagaimana bisa seperti itu?
Semua itu berawal dari rasa penat dalam menjalani kehidupan semasa SMA kelas 12 semester akhir yang beberapa bulan lagi akan menghadapi Ujian Nasional. Rasa penat itu mengantarkan saya untuk mencari sesuatu yang menarik untuk sekiranya dapat mengobati sedikit rasa penat itu sendiri. Bersyukur saya yang kebetulan bersekolah di asrama diperbolehkan mengakses internet di tiap akhir pekan. Tiba-tiba timbul ide untuk mencari sahabat pena ketika halaman browser muncul di layar. Saya membayangkan pasti akan seru apabila bisa berteman, mengobrol, bertukar pikiran serta berbagi cerita kepada orang yang tinggal di negara yang berbeda dengan saya. Mulailah saya mencoba mengunjungi situs pencarian sahabat pena di internet, membuat profil lalu menghubungi sekian orang yang profilnya sudah termuat di sana. Dengan Bahasa Inggris yang pas-pasan, saya nekad mengirimkan pesan melalui E-mail ke 15 orang dari negara-negara yang berbeda berisi perkenalan diri serta ajakan untuk bersahabat pena. Surat elektronik alias E-mail terakhir yang saya kirim di hari itu adalah ke seorang remaja laki-laki seusia saya yang dia berasal dari Negara Rusia. Tetapi ternyata dari 15 E-mail yang saya kirim ke 15 orang serta negara yang berbeda hanya satu orang yang membalas E-mail saya. Orang yang membalas justru orang itulah yang terakhir saya kirimi E-mail di hari itu! Iya, dia. Orang Rusia itu! Saya senang sekali ketika E-mail saya dibalas dan dia juga menerima ajakan saya untuk bersahabat pena. Saya sangat antusias dengan persahabatan jarak jauh antar negara ini. Sungguh ini sesuatu yang sangat menarik dan menyenangkan serta ini pertama kalinya dalam hidup saya memiliki sahabat pena dari luar negeri dan itu dari Rusia. Dia orang yang asyik, ramah dan baik sejauh saya berkomunikasi dengan dia. Hal itu membuat saya tertarik untuk mengenal dirinya lebih jauh. Tetapi karena hanya berkomunikasi melalui E-mail, saya tidak bisa stalking tentang dirinya di dunia maya (ups). Sehingga yang saya cari tahu lebih dulu adalah tentang negara dimana dia berasal. Dalam pikiran saya kala itu mungkin saya bisa mengenal dan memahami dirinya dengan lebih dulu mengenal serta memahami negaranya.
Pencarian tentang Rusia pun dimulai. Artikel yang saya baca ketika searching tentang Rusia adalah sebuah artikel dari website RBTH Indonesia mengenai eratnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Rusia di masa lalu. Terlihat foto Presiden Sukarno bersama Nikita Khrushchev, Pemimpin Soviet yang terlihat begitu hangat dan akrab serta Stadion Gelora Bung Karno adalah salah satu saksi bisu eratnya hubungan persahabatan antara dua negara tersebut. Terlebih di zaman ketika Indonesia masih merupakan negara yang baru merdeka dan berdaulat, sedangkan kondisi ekonomi, sosial dan politiknya masih belum begitu stabil ternyata Rusia dengan senang hati serta tulus telah banyak membantu Indonesia. Sungguh, saya terkesan sekali dengan kebaikan Rusia. Kebaikannya membuat kesan teramat dalam di hati saya sehingga membuat saya ingin mengetahui tentang Rusia lebih jauh. Saya benar-benar tidak menyangka bisa menyukai Rusia hanya karena berawal dari orang Rusia itu sendiri. Kalau misalnya dia yang berasal dari Republik Bashkortostan tidak membalas E-mail saya sebagaimana 14 orang lainnya kala itu, mungkin sampai hari ini saya tidak akan pernah penasaran dengan Rusia, mencari tahu tentang Rusia hingga bisa menyukai Rusia.

Rabu, 10 Juli 2019

                                                         (Foto : Dokumentasi Pribadi)

"Pak, sebenernya Kera Sakti itu beneran ada ga si?" °
Tanya salah seorang di antara kami yg saat itu sedang berada di dekat ruangan berisi patung Budha, Dewi Kwan Im, dan yg kami tak asing patung seperti sosok Biksu Tong Sam Chong. Yang mana kami merupakan peserta dari Diskusi "Pilar Budaya Tionghoa" pada tanggal 25  Februari 2018 silam di Klenteng Tang Seng Ong Bio atau dengan nama lain Vihara Tanda Bhakti Jakarta di daerah Glodok. Ia bertanya kepada salah seorang bapak penjaga Klenteng yang menjadi pemandu kami selama kami semua dipersilakan untuk berkeliling di dalamnya.
Rupanya aku pun juga terpikir.. Ohiyaya. Itu juga hal yg sama yg jadi rasa penasaranku selama ini.. Kera Sakti yg dulu waktu TK-SD aku suka banget nonton, itu beneran ada ga si?
Lalu bagaimana dengan tokoh Cu Pat Kai yg mengatakan "Cinta itu penderitaan tiada akhir.." Beneran ada gak ya. °


                                                         (Foto : Dokumentasi Pribadi)

Dan jeng jeng jeng jeeeengggg... Kata bapak penjaga klenteng yg menjadi pemandu kami, "Tokoh2 tersebut tidak ada dan tidak nyata. Mereka semua  hanyalah perwujudan dari pikiran manusia. Misalnya Sun Go Kong, dia merupakan perwujudan dari pikiran manusia yg ga bisa diem, suka pindah-pindah, kesana-kemari, maunya bikin  onar, bikin keributan, maunya berbuat seenak dan sekehendak hatinya saja, dsb.. Yg mana pada akhirnya hanya "Sang Budha" lah melalui Biksu Tong Sam Chong, Sun Go Kong dapat dikendalikan. Sebagaimana pikiran manusia yg tak terkendali, akhirnya bisa dikendalikan dengan ajaran Budha ". Begitulah kurang lebih penjelasan yg aku tangkap dari pemandu setelah selesai diskusi tentang "Pilar Budaya Tionghoa" di halaman depan klentengnya yg mana acara diskusi ini diadakan oleh Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia @pemerhatibudayadanmuseum . °
Setiap perjalanan ada hikmahnya. Aku bisa memahami org lain dengan memahami budayanya. Satu lagi,  Keragaman itu adalah perekat. Dan bukan pemisah.

                                                         (Foto : Dokumentasi Pribadi)

#budaya #culture #religion #history #sejarah #walkingtour #tour #tur #klenteng #vihara #temple #heritage #indonesia #indonesiantemple

Kamis, 04 April 2019



“BAHASA MELAYU SEBAGAI LINGUA FRANCA PADA MASA KURUN NIAGA”
Oleh : Maryam Syafiyah / 4415151184
Pendidikan Sejarah 2015 A
            Pernahkah terpikir di benak kita semua bagaimanakah cara berkomunikasinya orang-orang asing yang datang dari Gujarat, Arab, Persia, dan Cina yang datang ke nusantara untuk  berdagang antara satu sama lain dan khususnya dengan penduduk lokal pada masa kurun niaga? Mengapa dari semua bahasa di Kepulauan Indonesia-Malaysia, justru bahasa Melayu yang terangkat kedudukannya sebagai Lingua Franca? Bagaimanakah peran dan posisi Bahasa Melayu ketika itu? Dan seberapa pentingnya Bahasa tersebut dalam hubungan perdagangan di Nusantara terutama pada masa kurun niaga?  


 Menurut Kridalaksana (1991), Bahasa Melayu adalah salah satu anggota dari keluarga bahasa Austronesia, yakni kumpulan bahasa-bahasa yang mempunyai hubungan genetic dan terdiri atas lebih dari 800 bahasa, dituturkan mulai dari Madagaskar di barat sampai Pulau Paskah di timur, dan dari Taiwan di utara sampai Selandia Baru di Selatan. 


             Menurut Kridalaksana (1991), Bahasa Melayu adalah salah satu anggota dari keluarga bahasa Austronesia, yakni kumpulan bahasa-bahasa yang mempunyai hubungan genetic dan terdiri atas lebih dari 800 bahasa, dituturkan mulai dari Madagaskar di barat sampai Pulau Paskah di timur, dan dari Taiwan di utara sampai Selandia Baru di Selatan.             
Bahasa melayu yang merupakan turunan bahasa Austronesian Purba, dimulai sebagai satu dari beberapa varian bahasa yang saling berhubungan erat dan digunakan di Kalimantan Barat, kurang lebih dua juta tahun yang lalu. Penutur Bahasa Melayu Purba, nenek moyang dari semua dialek Bahasa Melayu yang masih ada dan yang sudah punah, mendiami daerah khusus secara ekologis: rawa-rawa, tanah basah, delta, dan pantai dari daerah sistem sungai di Kalimantan Barat. Pola pemukiman ini memungkinkan mereka untuk mempertahankan dan mengembangkan teknologi pelayaran. Hal ini juga menempatkan mereka pada posisi yang menguntungkan dalam penyaluran benda dan budaya spiritual antara orang Austronesia di pedalaman dan orang-orang yang tinggal di luar batas perairan Kalimantan (Collins 2005:4).
Pedagang dan nakhoda kapal yang datang di Malaka sangat beragam budaya, agama, dan daerah. Karena itu, diperlukan penerjemah untuk mengkomunikasikan kepentingan mereka. Kemampuan komunikasi, khususnya syahbandar, sangat mempengaruhi interaksi dan intensitas perdagangan. Dalam hubungan ini Bahasa Melayu sangat penting, sehingga menjadi keharusan bagi siapa pun untuk mengetahui, memahami, dan menggunakannya. Menurut Collins (2005:34), Bahasa Melayu pada abad ke-16 merupakan suatu kebutuhan yang mendesak bagi bangsa Eropa yang berdagang di Malaka. Hal senada juga dikatakan oleh Lombard (2005:34), bahwa sebelum kedatangan Belanda di Nusantara, pemakaian bahasa Melayu berakar kuat di kota-kota pelabuhan di sepanjang pesisir. Karena itu, orang Belanda memilih bahasa itu sebagai alat komunikasi utama dalam perdagangan di nusantara. Itulah sebabnya bahasa Melayu sering disebut lingua franca alias bahasa perdagangan maupun bahasa perhubungan.  
Bahasa melayu yang dalam sejarahnya telah lama menjadi bahasa perhubungan (lingua franca) antara penduduk-penduduk kepulauan Indonesia dan Nusantara umumnya, telah dipakai sejak zaman Sriwijaya abad ke-7 sampai abad ke-13. Kemudian setelah meredupnya Sriwijaya pada permulaan abad ke-14, memungkinkan dalam zaman yang hampir bersamaan tampil dua buah kerajaan besar: Kerajaan Majapahit di Jawa Timur yang dibangun oleh Raden Wijaya tahun 1293 dan Kerajaan Malaka yang didirikan oleh Prameswara pada akhir abad ke-14 (Usman 1964:72). Terbentuknya Kerajaan Malaka inilah salah satu hal yang menandakan Nusantara mulai memasuki masa yang disebut sebagai masa kurun niaga. Masa di mana mulai bermunculannya pemain pasar baru yaitu bangsa Islam. Yang hal ini juga ditandai oleh peristiwa yang menyangkut di Eropa yaitu penguasaan Islam (Dinasti Umayyah) di Spanyol. Munculnya pemain baru yaitu bangsa Islam sehingga masa kurun niaga juga disebut sebagai masa kurun Islam. Interaksi dengan bangsa Islam sendiri dibuktikan dengan adanya prasasti Arab tertua, yaitu batu prasasti Leran dari abad ke-11; ditambah pula adanya prasasti pada makam Malik Ibrahim, yang mungkin sekali adalah pedagang dari Gujarat. Prasasti itu berangka tahun 1419 dan terletak di Gresik, dekat Surabaya (Ronkel 1911, Juynboll 1911).
Pada abad ke-14 sampai abad ke-17 yang disebut sebagai masa kurun niaga dikarenakan bahwa di Nusantara pada abad ke-16 terjadi ledakan pasar yang terus-menerus dan tidak hanya berpengaruh terhadap Eropa dan Laut Tengah sebelah timur, tetapi juga Cina dan Jepang. Di samping itu juga terbentuknya Kapitalisme saudagar yang berasal dari Asia Tenggara yang selama periode ini para saudagar, penguasa, kota dan Negara menempati bagian sentral dalam perdagangan yang berasal dari dan melalui wilayah mereka (Reid 1999:3).  
Mengapa dari semua bahasa di Kepulauan Indonesia-Malaysia, bahasa Melayu yang terangkat kedudukan sebagai Lingua Franca? Di sepanjang Semenanjung Malaya (termasuk keempat propinsi paling selatan Thailand), meliputi sebagian besar Pulau Sumatera dan di sepanjang daerah pantai Kalimantan, ditemukan suatu mozaik dari berbagai dialek Melayu pedalaman yang berbeda, dari lembah yang satu ke lembah yang lain dan dari satu desa ke desa lain. Beberapa dari dialek ini, seperti dialek Minangkabau dan Kerinci, itu berlainan sehingga kadang dianggap dua bahasa yang berbeda. Padahal Sumatra dan Semenanjung Malaya sebenarnya merupakan daerah inti atau pusat bahasa dan kebudayaan Melayu, sedangkan dialek Kalimantan mewakili penyebaran lebih lanjut. Adapun timbulnya kebutuhan suatu lingua franca bagi suatu daerah, yang dikaruniai (atau dibebani) dengan begitu banyak bahasa, bukanlah hal yang mengherankan, khususnya karena kontak antara para penutur bahasa-bahasa ini dan bahasa-bahasa lain menjadi lebih sering, bersamaan dengan berkembangnya perdagangan antar pulau dan perdagangan luar negeri. Bahwa akhirnya bahasa Melayu mengisi peran tersebut adalah karena lokasinya yang strategis di kedua tepian pantai Selat Malaka, suatu daerah perairan sempit tempat perdagangan laut awal antara India dan Cina terpaksa berlalu-lalang, dan yang menyediakan suatu titik perhentian yang tepat untuk berlindung dari badai musiman atau untuk mengambil air dan makanan segar. Selama menanti selesainya pengisian bekal tersebut, para pedagang (bangsa India, Cina, dan kemudian juga bangsa Arab) haruslah bergantung pada perdagangan dengan penduduk yang berbahasa Melayu untuk mencari bekal dan tentu saja memerlukan sarana untuk berkomunikasi dengan mereka. (Kridalaksana 1991:182)
Sehingga kemudian Bahasa Melayulah yang dipilih dan digunakan sebagai Lingua Franca dikarenakan oleh sebab yang dikatakan Usman (1964:23-24) di bukunya yang berjudul “Sejarah Bahasa Persatuan” bahwa karena Bahasa Melayu itu bersifat sederhana dan lebih demokratis. karena letak Melayu (Negeri-negeri penduduk yang mempergunakan Bahasa Melayu) di bagian barat menjadi pusat lalu lintas, sejak mulanya bahasa itulah yang dipergunakan dalam perhubungan, baik sesama penduduk Nusantara maupun setelah ada hubungan dagang dan kebudayaan dengan bangsa asing. Dalam perhubungan semacam itu; untuk menghindari salah pengertian, diperlukan kalimat atau susunan perkataan yang sederhana dan tepat seperti yang kita kenal dengan Bahasa Inggris dalam hubungan dunia Internasional sekarang. Sehingga penggunaan bahasa yang semacam itu, baik oleh orang Melayu sendiri terutama oleh penduduk daerah maupun oleh bangsa pendatang yang lain, menghendaki pikiran dan ketelitian, supaya tidak terjadi salah paham. Pastilah di kalangan yang agak terkemuka, bila hendak mengadakan hubungan dengan orang-orang yang tidak sedaerah dengan dia, perlu pengetahuan bahasa itu sekedarnya.
Bahasa Melayu adalah bahasa yang sangat unggul dalam bidang ilmu, perdagangan, diplomasi dan agama. Surat dari Ternate (1521,1522) menggambarkan peran Bahasa Melayu tulis yang digunakan dalam kegiatan diplomatis di daerah tersebut yang mana ketika surat tersebut ditulis menggunakan bahasa Melayu, surat tersebut lebih diterima ketimbang surat yang ditulis menggunakan bahasa Tagalog yang kemudian surat berbahasa Tagalog itu dirobek-robek menjadi potongan-potongan (Collins 2005:29-30).  
Peran Bahasa Melayu memiliki peran yang lebih dari pada itu. Dilihat selama berabad-abad lamanya kontak bahasa dari pelabuhan-pelabuhan yang menggunakan berbagai bahasa di Mediterania, pengembara bangsa Eropa dari zaman itu menggambarkan Bahasa Melayu sebagai lingua franca di kawasan Asia Tenggara. Yang mana ini memberikan tekanan akan persebaran Bahasa Melayu yang luas dan berhubungan erat dengan perdagangan.
Reid (1988) menyimpulkan posisi khusus dari Bahasa Melayu pada Abad Perdagangan, bahwa “Bahasa Melayu menjadi bahasa perdagangan di Asia Tenggara. Penduduk dari kota besar perdagangan diklasifikasikan sebagai orang Melayu karena mereka berbicara dalam bahasa itu dan memeluk agama Islam, walaupun keturunannya berasal dari Jawa, Mon, India, Cina, dan Filipina.. setidak-tidaknya mereka yang berjualan dan berdagang di pelabuhan-pelabuhan besar berbicara dalam Bahasa Melayu, seperti berbicara dalam bahasa mereka sendiri.“
Bahasa Melayu juga merupakan bahasa resmi tulis yang digunakan di Istana-istana dan dalam agama yang dalam saat bersamaan merupakan bahasa yang digunakan untuk menjalankan tugas sehari-hari, bahasa perdagangan, dan bahasa interaksi masyarakat di pasar dan pelabuhan. Dengan demikian peran dan posisi Bahasa Melayu benar-benar melampaui cakupan fungsi dari bahasa-bahasa yang diketahui yang ada di Eropa dan tidak dapat digambarkan hanya dengan satu kata kiasan.        
Menuju akhir abad ke-16, pihak-pihak lain menyadari akan potensi Bahasa Melayu yang saat itu digunakan untuk kepentingan perdagangan; ada kebutuhan mendesak untuk meneruskan Bahasa Melayu dengan baik kepada ‘pemakai’ Bangsa Eropa. Bahasa Melayu, bahasa sastra dan masyarakat beradab, juga merupakan bahasa pekerjaan di pelabuhan dan perdagangan, sangat memerlukan pengantar yang sistematis. Situasi sosiolinguistik pada abad ke-16 di Asia Tenggara mencapai kesuksesan yang tiada bandingannya dalam karya F. de Houtman. Dia menggunakan tahun-tahun masa penahanannya (Juni 1599-Agustus 1601) di Aceh untuk mempelajari Bahasa Melayu dan mengatur kemajuan berbahasanya, yang kemudian ia menemukan sketsa gaya dari Bahasa Melayu. kemudian diterbitkanlah tsamensprekinghen yang berisi percakapan dalam bahasa Melayu yang ditulis dengan huruf latin, dengan kolom terjemahan dalam bahasa Belanda; percakapan antara pedagang dan pejabat pelabuhan, pedagang lainnya, penjaga pintu, dewan kerajaan, dan sultan sendiri—banyak ragam jenis dan etika gaya bahasa yang pada percakapan yang kaya dan rumit ini, terlampir daftar kata Belanda-Melayu (Collins 2005:34-35).
Kemudian terbit pula buku Spraeck ende woordboeck, inde Maleysche ende Madagaskarsche Talen yang pertama kali terbit pada tahun 1603. Yang mana para awak kapal dari berbagai bangsa, Jerman, Belanda, Denmark, dan Swedia yang berkumpul di Amsterdam dan memasukkan buku ini ke dalam tas mereka sebelum berangkat ke Asia Tenggara setelah buku percakapan de Houtman juga diterjemahkan ke dalam bahasa latin lalu kemudian ke dalam bahasa Inggris. Pembajakan yang jenius dari buku de houtman sebelum tahun 1614 ini menggarisbawahi dampak internasional buku yang hanya buku pelajaran bahasa–media (hanya media cetak) yang dapat dibandingkan dengan karya yang segera mendapat perhatian seluruh dunia.
Hal yang perlu diingat adalah bahwa buku de Houtman ditujukan kepada orang yang tidak berbicara dalam bahasa Melayu. Buku tersebut adalah buku pegangan untuk bahasa, ditulis dalam bentuk percakapan dramatis agar orang Eropa dapat belajar Bahasa Melayu, bahasa yang tidak terpisahkan dari Kepulauan Nusantara. Dengan orang Eropa belajar bahasa Melayu, semakin mudah orang Eropa dalam melakukan transaksi perdagangan dengan penduduk Nusantara. Yang kita semua sama-sama tahu bahwa awal dari penjajahan bangsa Eropa terhadap Nusantara khususnya diawali dengan niat awal mereka yang hanya ingin berdagang. Dari yang hanya ingin berdagang itu kemudian berubah menjadi berambisi untuk menguasai perdagangan dengan melakukan praktik monopoli. Lalu kemudian membentuk koloni, hingga akhirnya menjajah. Dan dapat disimpulkan bahwa semua itu berawal dari penguasaan dan pemahaman bahasa Melayu sebagai bahasa perhubungan dan perdagangan di Nusantara.

Rabu, 06 Februari 2019





APA


Apa itu hidup? Apa itu tertawa? Apa itu menangis? Apa itu makan? Apa itu minum? Apa itu bernafas? Apa itu usaha? Apa itu capek? Apa itu muak? Apa itu bahagia? Apa itu kematian?


Apa itu alasan? Apa itu semangat? Apa itu melanjutkan? Apa itu hidup? Apa itu ikhlas? Apa itu percaya? Apa itu kerelaan? Apa itu sepenuh hati? Apa itu penuh? Apa itu hati? Apa itu mati?


Apa apa apa apa apa dan apa. Apa ya hanya apa. Bukan kenapa lalu bagaimana.. Apa. Apa kamu tau? Apa itu rasa? Apa itu kesan? Apa itu pesan? Apa itu isyarat? Apa itu maksud? Apa itu keinginan? Apa itu perasaan? Apa itu isi hati?


#apa #puisi #sajak #katakata

Minggu, 03 Februari 2019





Hujan akhir Januari

Sorot matamu
Selain suaramu
Selalu membuatku rindu
Walau terhalang sepasang kaca yang kaku

Di januari yang beku
Dingin mengilu
Langit tetap aneh mengelabu

Awan pilu
Menumpahkan jutaan rintik hujan bagaikan batu
Meninggalkan sejuta tanya yang menggebu
Di dalam sanubari yang biru

Mungkin ini saatnya kuharus membisu
Membiarkan semua kekakuan itu
Agar segera berlalu
Berharap dicairkan oleh waktu





Versi 2


Hujan akhir Januari

Sorot matamu
Selain suaramu
Selalu membuatku rindu
Walau terhalang sepasang kaca yang kaku

Di januari yang beku
Dingin mengilu
Langit tetap mengelabu

Awan pilu
Menumpahkan jutaan rintik hujan bagaikan batu
Meninggalkan sejuta tanya yang menggebu
Di dalam benakku

Mungkin ini saatnya kuharus membisu
Membiarkan semua kekakuan itu
Agar segera berlalu
Dicairkan oleh waktu



#hujan #akhir #januari #january #hujanakhirjanuari #katague
#poet #poetry #poem #puisi ?  #sajak ? #katakata #asalngomong #asaljeplak #iseng #nyablak #njeplak #bacot #bacod #seenakjidat #bodoamat #yangpentingyakin


Follow saya di
Instagram : @maryam.syafiyah

Jumat, 18 Januari 2019

Two days ago my friend submitted a request in my instagram story to make a "Postcrossing Starterpack" for newbie who join Postcrossing.
His request turned out to make me inspired to make this..
First, I made it in insta story but it was really messy there.. Then, I edit again, so.. That is it!
I'm sorry if it's still a mess .. But hopefully this is a little useful.. 😀
*sorry if my english not really good




#postcrossing #starterpack #👍 #😉
#postcrossingstarterpack #postcrossingindonesia #komunitaspostcrossingindonesia #happypostcrossing 
. . 
Tadi ada permintaan dari temen utk dibuatkan postcrossing Starterpack buat newbie yg ikutanpostcrossing, permintaan dia ternyata bikin saya terinspirasi utk membuat ini.. Awalnya saya bikin di insta story tapi disitu acak-acakan banget.. Akhirnya diedit-edit lagi dan jadilah ini hehe.. Mohon maaf kalo msh berantakan.. Tapi semoga ini sedikit bermanfaat 


Follow me on Instagram @maryam.syafiyah

Senin, 18 Desember 2017

Korespondensi dengan sahabat pena dari Luar Negeri



Korespondensi dengan sahabat pena dari luar negeri..

Hai teman-teman yang sekarang kalian sedang membaca tulisan saya ini..
Pada tulisan kali ini saya ingin bercerita tentang bagaimana ceritanya saya bisa mempunyai sahabat pena di luar negeri.

Kok bisa sih punya sahabat pena dari luar negeri?
“Itu gimana ceritanya yam?” kata taufik
“menarik juga ya, eh itu gimana caranya? Penasaran aja si, emang masih ada ya korespondensi di era digital ini heheh”  kata kak Syahid
“seru, jd kepingin nyoba.. ajarin coba..” kata mas Afif.
“kok bisa dapet sapen dari mana mana sih.. caranya begimana dah?” kata ihksan
“yam, emangnya dia ga punya WA apa? kok lu pake ngirim surat segala.. Dan pake email doang kan bisa..” kata Rahel.

Nah, atas dasar pertanyaan-pertanyaan itu lah saya tergerak untuk menuliskannya sekaligus untuk menjawab apa yang mereka tanya.

         Jadi begini kawan, aktifitas surat-menyurat saya dengan orang diluar negeri itu berawal dari ‘kegabutan yang hqq’, kalau kata anak jaman now. Atau kalau dalam bahasa yang lebih baku adalah karena saya ketika itu sedang dilanda rasa kebosanan. Kenapa saya merasakan bosan? Karena ketika itu saya sedang berada di kelas 12 semester 2, yaitu sekitar awal tahun 2015. Dimana dua atau tiga bulan lagi saya akan melaksanakan Ujian Nasional setelah sebelumnya dilanda ujian praktek, ujian tahfidz, kemudian dilanjutkan oleh Try Out, saya tiba-tiba kepikiran ingin sekali mendapatkan sebuah paket atau benda dari luar negeri. Entah kenapa. Mungkin sebagai penyemangat (?) atau justru pengen iseng aja gitu..
        Kemudian saya menemukan di internet ada web yang menyediakan buku dan majalah gratis. Cuma, saya sudah coba namun saya kesulitan untuk mengikuti prosedurnya hingga akhirnya saya melupakannya. Setelah melupakan untuk bagaimana mendapatkan majalah dan buku gratis dari luar negeri, tiba-tiba muncul ide. “ah, bagaimana kalau saya mencari sahabat pena aja? Bukankah lebih asik kalo punya teman dari luar negeri, lalu kirim-kiriman surat melalui pos..”
Akhirnya saya pun mulai mengetikkan di search Google (saya lupa kata kunci yang saya gunakan apa) namun yang aku temukan adalah cerita-cerita orang lain di blognya tentang dia dan sahabat pena dan tentang isi suratnya. Sebagian besar juga bercerita kalo mereka mulai mendapatkan sahabat pena ketika mereka masih SD dan mereka mendapatkan sahabat pena itu dari majalah Bobo.

      “yaaahh ga ada informasi tentang kemana saya bisa mendapatkan sahabat pena..” Saya sudah bukan anak SD lagi dan tentu aja saya ga punya majalah Bobo. Toh keluarga saya dan asrama juga ga berlangganan majalah itu. Hmm tapi akhirnya aku menemukan petunjuk dari sekian web dan blog yang aku kunjungi. Dan pada akhirnya aku mengetikkan kata kunci di pencarian google dengan tulisan “situs pencarian sahabat pena”. Dan Alhamdulillah ketemu.. Berhasil! Horrreyyy!!

        Aku menemukan ada blog yang disana si penulis menghimpun empat situs yang bisa digunakan untuk mencari sahabat pena dari seluruh dunia. Akhirnya saya pun mencoba untuk mengunjungi keempat-empat link yang ditulis si pemilik blog. Singkat cerita, saya mulai mencoba mengeksplorasi dan registrasi untuk menjadi member disana. Namun, dari keempat-empat situs yang saya coba, cuma satu situs yang saya sreg dan masih saya kunjungi dan masih saya gunakan sampai sekarang kalau saya hendak mencari sahabat pena baru.. yaitu…..  Taaraaaaaaaaaaaaaa…..


        kenapa saya lebih senang menggunakan dan mengunjungi web itu? Karena tampilannya sederhana dan mudah saya pahami. Dan sangat mudah juga untuk mencari kriteria sahabat pena yang saya inginkan. Bisa berdasarkan Negara, bahasa, dan bahkan usia. Misalnya : saya ingin mencari sahabat pena dari Negara Rusia. Saya tinggal mengklik Link yang tulisannya Russia.  Lalu muncullah semua profil member dari Negara Rusia yang meregistrasikan dirinya di website tersebut. Lalu di bawah masing-masing profil orang-orang tersebut, ada tulisan “write her/him” tergantung orang tersebut laki-laki atau perempuan.


(tampilan profil member)

Lalu klik tulisan itu. Disana kemudian muncul kolom-kolom untuk mengetikkan isi surat yang ditujukan kepada orang tersebut.

(kolom isi surat)

Bingung mau nulis apa?  Apalagi kemampuan bahasa Inggris juga ga bagus-bagus amat dan bahkan pas pasan??  GUE BANGEETTT! Ada yang bernasip sama? Kalo iya, kita senasip, cuy..  Saya juga awalnya bingung malah ga tau harus nulis apa buat orang lain yang saya ga kenal sama sekali bahkan dengan orang yang bukan senegara dengan saya, yang otomatis budaya, dan bahasa juga berbeda.  Akhirnya ya saya pun googling again.. hehe.. Dengan kata kunci “contoh surat untuk sahabat pena” atau “contoh surat berbahasa inggris untuk sahabat pena” aduh saya lupa gimana kata kuncinya, pokoknya kurang lebih begitu ya..     

Ohiya. Fyi alias For your information aja nih.. saya kan bahasa Inggrisnya masih dableg, yak.. Nah, saya masih takut tuh sebenernya nulis bahasa Inggris apalagi kalau orang yang saya surati itu adalah orang yang writing language pertamanya itu English alias bahasa Inggris.. Saya malu karena bahasa Inggris saya masih jelek (sekarang masih deh). Akhirnya saya akali dengan cari cara lain yaitu saya cari member yang writing language pertamanya adalah bukan English (bahasa Inggris). Dan saya pun mencari orang yang Negara dan rata-rata warga negaranya bukan yang bertutur bahasa Inggris, misalnya Negara Rusia, Jepang, dll..  Kalo orang Rusia rata-rata writing language pertamanya Russian, baru setelah itu English. Begitu juga dengan orang Indonesia pun sama, rata-rata writing language pertamanya Indonesian, baru deh writing language keduanya English.
Tapi ya mau gimana lagi ya. Bahasa Inggris kan bahasa internasional. Semua manusia di dunia ini yang masing-masing punya latar belakang bahasa yang luar biasa banyak dan berbedanya, kalau mau komunikasi antara satu dengan lainnya dengan mudah, ya salah satu caranya adalah dengan menggunakan bahasa Inggris.
Akhirnya dengan modal nekat, saya beranikan diri untuk menulis surat elektronik menggunakan bahasa Inggris sebisa yang saya bisa dan dengan bantuan google translate tentu saja.
Lanjut yang tadi, Nah setelah ketemu, saya ambil contoh dari satu atau dua web yang menyediakan contoh kalimat atau paragraph isi surat itu. Kemudian saya ubah-ubah lagi isinya dan saya sesuaikan dengan apa yang ingin saya ceritakan tentang diri saya secara singkat sebagai perkenalan awal. Mengenai isi surat sayanya..



(isi suratnya)

Selesai tulis suratnya, lalu saya copy ke kolom untuk tulis surat dan saya klik send. Nah, nanti surat yang ditulis akan dikirim ke email member tersebut melalui web ini.
Awalnya saya kepingin banget punya sahabat pena dari Belanda. Tapi kayanya saya harus menelan kekecewaan karena dari sekian orang/member dari Negara Belanda yang saya kirimi pesan elektronik, ga ada satu pun yang balas. Hm.. mungkin hubungan Indonesia dan Belanda waktu itu lagi kurang baik kali ya. dan iya, ternyata di berita muncul tentang itu. Cuma karena kenapanya lupa, karena itu terjadi udah lama, pas tahun 2015. Akhirnya dengan main copas alias copy paste surat yang tadi dibuat, dan tinggal mengubah dear… blab la bla.. dengan dear… (nama orang yang saya tuju), akhirnya saya mengirim ke random member di negara-negara berbeda. Saya kirim ke Maroko, Tunisia, Norwegia, terus lupa kirim ke member Negara mana lagi, dan yang terakhir saya kirim ke member dari Negara Rusia. Surat elektronik terakhir yang saya kirim ke Rusia adalah surat elektronik ke-15 yang saya kirim hari itu juga.
Dan kalian tahu apa? Dari 15 surat elektronik yang aku kirim ke 15 orang member dari berbagai Negara, yang balas surat elektronikku Cuma satu! Iya, satu! Yaitu seorang dari Rusia yang mana dia adalah orang ke-15 yang aku kirimi surat elektronik.. Ajaib.. Biar begitu, Alhamdulillah sampai sekarang aku masih berteman dengannya dan umur pertemananku sudah hampir 3 tahun.. Tapi komunikasinya sekarang berpindah dari yang tadinya lewat email, sekarang pindah ke facebook, kemudian ke whatsapp. Tapi sekarang jarang berkomunikasi karena dia sibuk kuliah, aku pun juga sama. Ohiya. Aku pernah meminta alamat rumahnya untuk aku kirimi surat fisik ke dia. Dan dia pun memberikannya sembari mengatakan “I will wait you in guests! :)”  hm.. apa itu artinya aku diundang untuk ke negaranya, ke rumahnya? Woooowww..  Aamiin.. Aamiin.. semoga suatu saat nanti saya bisa ke Rusia dan mengunjungi dia.. dan kalo bisa saya lanjut kuliah disana.. Aamiin.. J


(suratku yang sudah sampai di Rusia yang dia foto dan dia tunjukkan ke aku)

        Seminggu kemudian, dengan mengulangi isi surat elektronik yang sama, kembali aku mengirimi 15 orang member secara acak juga. Dan hasilnya? SAMA! Dari 15 yang aku surati, Cuma 1 yang balas.. :’(  Tapi ga apa-apa.. Mungkin yang aku surati dia sedang sibuk dan tidak mengecek emailnya. Yang balas itu saya lupa orang Swedia atau orang Portugal. Tapi yang jelas yang aku sempat ngirim surat fisik itu adalah ke Mr. Eleonore dari Sweden. Aku mengiriminya surat, tapi aku lupa memfoto suratnya. Dan kemudian dia membalas suratku.. ini dia surat darinya..




(surat balasan dari Mrs. Eleonore)



Namun sayang sekali.. aku membalas suratnya lagi sangat lama.. hingga akhirnya aku baru bisa sempat mengiriminya surat lagi setelah hampir 2 tahun :’(

            Dan kini, setelah hampir 2 tahun saya vacuum dari kegiatan korespondensi atau surat-menyurat dengan sahabat pena, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat saya tergerak kembali untuk melakukan aktivitas ini. Aktivitas ini sangat menyenangkan dan seruuuuuuu abiiisssss… Dan ini adalah sebuah kegiatan yang positif. Saya senang melakukannya.
            Ini semua berawal ketika saya sedang main instagram. Seperti biasa liat instagram story orang-orang dan melihat apa-apa yang di-upload  teman-teman di instagram. Dan secara tidak sengaja aku menemukan sebuah akun instagram dengan ID @happymailer. Ketika saya kepoin isi upload-an akunnya, waaaww isinya menarik banget. Rupanya si empunya akun itu suka ngirimin surat, paket atau parsel yang isinya ada makanan, scrapbook, stiker-stiker lucu, surat, coklat, buku catatan kecil yang lucu, kertas-kertas lucu, boneka lucu, dan lain-lain gitu..



Nah, singkat cerita, daftar orang yang saya kepoin akun instagramnya pun bertambah 1, yaitu si akun tersebut. Kegiatan kepo-mengepo itu seru lho sebenernya. Saya beranggapan kalau kita bisa sedikit mengerti dan memahami seseorang dari akun media sosialnya. Karena saya beranggapan bahwa apa yang dimunculkan di akun media sosial seseorang entah dalam bentuk tulisan atau gambar, itu sedikit banyak mewakili kepribadian dan karakter orang tersebut. Cuma ya, wallahu ‘alam deh saya Cuma sotoy alias sok tahu.. maklum karena saya bukan ahlinya kalo masalah yang kaya gitu..
            Ketika lagi asik kepoin akun ignya doi, eh tiba-tiba doi memposting sesuatu yang membuat saya senang, tersenyum, dan girang.. Mau tau apa yang dia posting? GIVE AWAY!!!
Horaaaayyyy ada GIVE AWAY.. Hal yang dinantikan oleh banyak orang.. walaupun mungkin ga semua.. Pokoknya dia mengumumkan sebuah challence berhadiah..



Nah itu dia isi challence atau kompetisi yang dia adakan. Dia mengadakan challence tersebut karena dia suka melakukan pertukaran atau saling kirim paket/parsel keluar negeri. Tetapi dia sedih karena banyak orang lain yang juga menyukai aktifitas tersebut, tetapi tidak bisa melakukan hal seperti yang dia lakukan karena terkendala uang, dan lain-lain... Maka dari itu dia membuat challence tersebut dan bagi yang memenangkannya akan dikirimkan paket/parsel yang dikirim secara internasional darinya secara gratis. Karena dia berasal dari Negara Australia dan akan mengirimkan paketnya ke pemenang yang berasal dari luar negaranya. Dan pemenangnya tidak harus membalas kiriman paketnya.
Challence nya gampang cuma disuru komentari postingan dia yang itu atau kirimi dia DM alias Direct Message ke akun instagramnya bagi siapapun yang menyukai kirim-mengirim atau tukar-tukaran parsel atau paket secara internasional tetapi tidak bisa melakukannya dikarenakan kendala uang dan lain sebagainya.

Kriteria orang yang diperbolehkan untuk mengikuti challencenya adalah hanya untuk perempuan, menyukai pengiriman ke luar negeri, tetapi dia benar-benar memiliki kendala sehingga dia tidak bisa melakukan pengiriman paket/parsel keluar negeri, yang mana contoh kendalanya adalah karena uang. Akhirnya saya iseng mengomentari postingannya menggunakan akun instagram saya yang kedua, yaitu @me­_arrts. Isi komentar saya ada di gambar. Kemudian lewat DM menggunakan akun instagram pertama saya dengan ID @maryam.syafiyah, saya bertanya kepadanya tentang berapa uang yang dia pakai untuk sekali mengirim paket/parsel keluar negeri. Dan dia jawab kalau ke Asia sekitar AU $22, dan sekitar $28 ke seluruh dunia. Kenapa lebih mahal karena bisa dilacak keberadaan parcel/paketnya. Dan berat parcel yang dikirimkan itu seberat 500 g dan harga tarif itu hanya untuk satu paket. Katanya “apakah itu terlalu mahal di Negara mu?” Dan saya jawab, “hm..ya.” lalu saya bertanya lagi yang intinya dia menggunakan jasa yang mana dalam mengirim paket? Terus dia bilang kalau menggunakan pos Australia, yang mana itu layanan pos pemerintah, dia bisa mengirim paket seharga AU $15 ke Asia tetapi tidak bisa di track atau dilacak perjalanan paketnya. Lalu dia bertanya lagi. “apakah itu masih terlalu malah di negaramu?” kemudian saya mencari berapa kurs dari AU $15 ke kurs rupiah, dan ternyata mencapai IDR 159,364. 865 atau sekitar Rp 160.000..  Wow mahal juga ya aku pikir. Dan aku pun bilang ke dia “ya. this is expensive for me..” karena saya masih kuliah, belum bekerja dan uang jajan terbatas banget, akhirnya saya mengakhirkan percakapan dengannya sambil berkata “may be one day I can send a package for my penspal.. but, thankyou very much for your information.. J (y) “
Dan dia membalas lagi dengan berkata “it might be cheaper to send a parcel from your country though J this is just the cost from Australia with our postal system xo”
dan aku pun menjawab lagi dengan “Oowh.. ya! May be that’s right. Thank you very much before J
Dan maasyaaAllah.. satu minggu kemudian saya mendapat kabar kalau saya memenangkan challence darinya. Horaaaayyyy Alhamdulillah…. J


        Segera setelah itu dia mengirimi saya pesan lewat Direct message. Dia menanyakan alamat saya, nama, dan nomer telepon. Akhirnya saya berikan dan beberapa hari kemudian dia mengirimkan foto paket yang akan dia kirim ke saya sekaligus memberikan nomer resinya. Kemudian saya cek dan pantau terus paket saya sudah sampai dimana aja.


         Singkat cerita Alhamdulillah paket saya sampai! Horrayyyy…  saya kaget ketika saya sampai di rumah dan melihat ada paket dan setelah saya baca, itu dikirim dari Australia dan dikirim oleh Mrs. Olivia.. Sang pemilik akun instagram @happymailer.. wiiihiiiii…. Senangnya bukan kepalang. Saya sampe jingkrak-jingkrakan di ruang tamu karena dapat paket.. Horeeeeyy gue dapet hadiah dari luar negeri.. J J J


Akhirnya dengan tidak sabar rasanya untuk segera membuka isi paketnya. Aku pun perlahan merobek sisi kanan paket dan mulai mengeluarkan dan melihat apa saja isinya..
Dan isinya….  Tararaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………








          MANTAPPPP…  Isinya banyak banget.. Makanannya snack yang dikasih dari dia enak, barang-barang yang dia kasih berupa stiker, selotip lucu, pin, boneka kangguru, dan tidak lupa kartu pos!

Amazing! What a happy Iam!!

Senang banget saya. Karena ini baru pertama kalinya saya dapat kiriman paket dari luar negeri.. dan lebih-lebih di tanggal 27 Oktobernya saya ulang tahun, sedangkan paketnya sampai di tanggal 24 Oktober! Secara tidak langsung ini adalah hadiah pertama ulang tahun saya di tahun ini, 2017! Saya sangat senang dan sangat menikmati semua pemberian dari Mrs. Olive.. saya ucapkan banyak terimakasih padanya..  Saya berniat untuk membalas pemberiannya walaupun dia bilang kalau tidak perlu membalasnya.
            Tapi sungguh saya ingin membalasnya dengan pemberian dari saya yang walaupun sangat tak seberapa dibandingkan dengan pemberiannya Mrs. Olive sebagai wujud rasa terimakasih saya padanya.  Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba belajar membuat scrapbook untuknya dan memberikannya beberapa barang kecil yang sekiranya muat untuk dimasukkan ke dalam amplop surat. Ini dia amplop yang saya buat dan saya gunakan untuk dikirim ke Mrs. Olive.



Dan mengenai isi amplop yang aku kirim ke Mrs. Olive itu adalah…










Mengenai apa yang saya kirim ini, saya telah menuliskannya di akun instagram saya yang kemudian saya bagikan lagi di akun facebook saya pada Hari Kamis, 7 Desember 2017. Berikut saya kutip kembali tulisan saya itu :
Benda ke - 5 yg dikirim lewat pos di tanggal 5 desember kemarin.. Benda pertama yg kukirim adalah surat utk sapen di Rusia. Lalu benda ke-2 juga sama, surat utk sapen di Swedia. Benda ke-3 adalah kartu pos utk seorang yg alamatnya dikirim secara random dari sebuah Website yg bernama Postcrossing.com... dan saya mendapatkan alamat seorang dari Negara Czech Republic dan saya mengirimkan kartu pos padanya. Lalu benda yg ke-4 surat juga utk sapen yg sama di Swedia. Dan yg ini, yg ke-5 utk sahabat baru di Australia.. Semoga suratnya sampai walaupun cuma pake RLN, yaitu jasa pengiriman pos biasa dan menggunakan pranko. Dan yg aku kirim di atas menggunakan 8 pranko yg harga satuannya Rp 2500 ditambah 1 pranko seharga Rp 3000 (silakan ditotal sendiri biaya pengirimannya J). Berbeda dengan yang EMS, kiriman pos kilat khusus yg diberikan nomer resinya agar kiriman kita bisa dilacak keberadaannya dan cepet sampenya.. Kenapa ga pake yg EMS aja? Karena EMS itu biayanya jauh lebih mahal.. Bahkan bisa nyampe 100-200 rb.. :’( :’( :’(
Ohiya. Mengenai apa aja si yg aku kirim lewat amplop ini. Aku mengirimkan scrapbook pertama buatanku untuknya, karena baru kali ini aku mencoba membuat scrapbook. (yaa ga terlalu mengecewakan lah scrapbook buatanku hehe :D ). lalu souvenir bookmark wayang, yg aku beli tempo hari di @haloposnesia, lalu 3 buah permen, karet ikat rambut warna warni, sticker persija, uang mainan yg dibeli di abang2 :D, tulisan nama dia yg aku buatkan untuknya, dan brosur dari minimarket.  Karena yg aku tau dia menaruh minat utk mengoleksi brosur dari seluruh dunia.. Akhir kata, semoga apa yg kukirim sampai kepada si penerima.. Walaupun lama bgt pasti nyampenya.. Hei @happymailer, my new friend.. Hope this mail arrive safely to you J

#mail #snailmail #letter #scrapbook #post #penspal #penfriend.. “

Ohiya. Sebelum aku mengirimkan sebuah kiriman untuk Mrs. Olive, aku secara tidak sengaja menemukan sebuah website keren yang bernama www.postcrossing.com yang mana itu adalah website untuk melakukan pertukaran silang kartu seluruh dunia. Aku menemukannya ketika aku sedang googling tentang tarif pengiriman surat, kartu pos, dan paket keluar negeri di sebuah website/blog yang secara rinci menjelaskan tentang kirim-mengirim surat, kartu pos, dan paket. Aku menemukannya di kolom komentar. Tetapi awalnya yang disebutkan adalah adanya sebuah grup di Facebook yang bernama “Komunitas Postcrossing Indonesia”. Aku pun tertarik untuk daftar tapi ternyata yang ingin daftar jadi anggota grup tersebut harus punya ID akun di sebuah website yang bernama www.postcrossing.com yang tadi saya sebutkan. Akhirnya saya meluncur kesana, membaca ketentuan-ketentuannya, lalu mendaftar jadi anggota. Setelah daftar saya diberikan alamat random yang mana saya harus mengirimkan kartu pos ke alamat tersebut. Alamat pertama yang harus saya kirimkan kartu posnya adalah seorang perempuan dari Negara Czech Republic. Kemudian saya berinisiatif agar sekalian saja saya mengirimkan surat juga untuk sahabat pena saya di Sweden. Dan ini lah surat untuk sahabat pena saya di Sweden dan kartu pos untuk teman baru saya di Czech Republik..


Ohiya nih.. Pengen cerita lagi. Alhamdulillah setelah saya daftar jadi member di www.postcrossing.com permintaan saya untuk gabung ke grup Komunitas Postcrossing Indonesia diterima/ di acc. Nah saya pun akhirnya bisa melihat aktifitas-aktifitas di grup tersebut. Ada yang laporan tentang kiriman paket dan suratnya ke siapa. Ada yang mendapat kiriman kartu pos atau surat atau paket dari salah seorang member di grup itu. Dan banyak juga give away disana. Yang hadiahnya berupa kartu pos, dan lain sebagainya.
Suatu ketika ada give away lagi dan saya iseng lagi ikut give awaynya.



Dan jawaban saya..



Dan ……….. Taraaaaa… saya menang lagi… Horreeeyyy Alhamdulillah..


Nah, terakhir…
Saya kemarin iseng lagi mengunjungi website www.postcrossing.com dan disana saya mengajukan ingin mengirim kartu pos lagi. Dan dapatlah saya alamat random yang mana saya harus kirim kartu pos ke alamat tersebut yang ia beralamat di Rusia..
Lalu di hari yang sama yaitu kemarin, saya iseng lagi nyari sahabat pena baru dan tentu saja saya cari dari Negara Rusia.. Rusia lagi Rusia lagi.. karena saya lagi senang aja gitu dengan Negara tersebut.. ada keinginan mendalam agar aku suatu saat bisa kesana..kuliah disana, dan mengunjungi sahabat penaku. Walaupun diriku belum sama sekali menginjakkan kaki kesana, tapi setidaknya suratku udah sampai disana duluan. Akhir kata, semoga suratku sampai ke tangan yang dituju dengan selamat.. aamiin.. aamiin.. yaa Robbal ‘aalamiin..










          Eiiiitttt  masih ada yang ketinggalan.. Mengenai pertanyaan yang ini :

“yam, emangnya dia ga punya WA apa? kok lu pake ngirim surat segala.. Dan pake email doang kan bisa.."

Hm..   Aku yakin dia dan mereka, orang-orang yang aku kirimi surat pasti pada punya WA dan email tentu aja. 

Tapi begini lho, teman.. Sensasi dari menerima pesan lewat Email, Facebook, dan bahkan lewat aplikasi Whatsapp, itu sangat-sangat berbeda rasanya dibandingkan dengan menerima pesan melalui surat berbentuk surat fisik secara langsung. Surat yang secara nyata, surat yang bisa digenggam tangan, yang diantarkan langsung oleh Pak Pos, dan surat itu merupakan pemberian langsung dari dia, tulisan tangan, tulisan tangannya dia langsung, dikirim oleh dia menggunakan perangko, yang mana surat itu menjelajahi daratan-daratan, dan melewati setiap batas negara, hingga akhirnya sampai di tangan saya sendiri.. Ditambah dengan rasa yang deg degan, harap-harap cemas, bahkan khawatir  bukan main ketika menunggu surat balasan atau ketika saya mengirim surat. Takut-takut kalau suratnya tidak sampai. Karena surat-suratan menggunakan kiriman pos itu sungguh sangat membuat diri harap-harap cemas. karena beberapa kali saya liat dan baca pengalaman orang-orang yang kartu pos kiriman mereka banyak yang tidak sampai.. Tapi, alhamdulillah.. selama ini surat dan kartu pos saya sampai. Salah satunya kartu pos yang saya kirimkan ke Chezh Republic sampai.

           Intinya, sensasinya beda banget ketika mendapat pesan lewat email, dengan ketika mendapat pesan lewat surat yang diantar pak pos. Karena sensasi menunggu itu yang benar-benar bisa membuat kita menghargai setiap apa yang kita terima. Saya jadi lebih menghargai surat yang diberikan oleh orang tersebut, dan coba dibandingkan dengan ketika mendapat email.. euforia nya cuma sebentar.. paling cuma.. "Horeeee email gue dibales.." paling cuma begitu aja. Tapi beda banget euforia kegirangan dan rasa senang yang saya dapat ketika  benar-benar dapat surat dalam bentuk hard nya, fisiknya, bukan hanya sekedar soft nya, digitalnya..